News & Blog

Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.

Menembus Batas Kepunahan: Inovasi Teknologi Reproduksi untuk Badak Sumatera

Upaya penyelamatan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) kini memasuki babak baru yang penuh harapan. Sebagai satwa yang sangat sulit berkembang biak di alam liar karena populasinya yang terfragmentasi, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan tidak lagi hanya mengandalkan proses alamiah. Meskipun fasilitas semi in-situ di Suaka Rhino Sumatera (SRS) Taman Nasional Way Kambas telah berhasil menghadirkan lima individu baru melalui perkawinan alami, tantangan kepunahan yang mendesak menuntut langkah-langkah yang lebih progresif dan berbasis sains tinggi.

Pada awal Januari 2026, tepatnya tanggal 6 hingga 8 Januari, sebuah tim kolaborasi lintas negara dan institusi berkumpul di Way Kambas. Tim ini terdiri dari para ahli dari Kementerian Kehutanan RI, SKHB-IPB University, Yayasan Badak Indonesia (YABI), Taman Safari Indonesia, hingga pakar dari Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research (IZW) Jerman. Fokus utama mereka adalah menjalankan prosedur Assisted Reproductive Technology (ART) atau teknologi reproduksi berbantu. Dalam kegiatan ini, dilakukan pengambilan sampel sperma dari badak jantan bernama Harapan dan Andalas, serta pengambilan biopsi kulit dari Harapan, Andalas, dan Bina untuk kebutuhan riset genetika masa depan.

Langkah ini bukan sekadar prosedur medis biasa, melainkan bagian dari strategi besar Program Meta Populasi Badak Sumatera. Nantinya, koleksi sperma yang berhasil diambil akan diproses secara laboratorium untuk dipertemukan dengan sel telur badak sumatera betina yang berada di Suaka Badak Kelian, Kalimantan Timur. Integrasi genetik antara badak di Sumatera dan Kalimantan ini sangat krusial untuk menjaga keragaman genetik spesies yang kini hanya tersisa di empat kantong populasi di Indonesia: Kawasan Ekosistem Gunung Leuser, TN Bukit Barisan Selatan, TN Way Kambas, dan Kutai Barat.

Keberhasilan program ART ini menjadi tumpuan bagi keberlangsungan hidup badak sumatera di masa depan. Kita semua tentu berharap agar kerja keras para dokter hewan, peneliti, dan konservasionis ini membuahkan hasil manis, sehingga generasi mendatang masih bisa melihat sang “fosil hidup” ini tetap melangkah di hutan Indonesia. Dukungan dan doa dari masyarakat sangat berarti bagi setiap langkah kecil yang diambil demi mencegah hilangnya salah satu warisan alam paling berharga di dunia.