News & Blog

Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.

Menjaga Keanekaragaman Hayati Way Kambas: Dari Penjaga Hutan hingga Penghuni Air

Taman Nasional Way Kambas merupakan salah satu benteng terakhir bagi satwa liar Sumatera yang terancam punah. Keberlangsungan ekosistem ini sangat bergantung pada upaya pelestarian yang dilakukan secara konsisten di lapangan. Ancaman utama bagi satwa ikonik seperti gajah Sumatera berasal dari hilangnya habitat yang dipicu oleh pembalakan liar yang tidak berkelanjutan, perburuan, serta konflik yang tak terelakkan antara manusia dan gajah. Jika tidak ada tindakan nyata, populasi ini berisiko hilang selamanya dari alam liar.

Untuk memitigasi risiko tersebut, tim Elephant Response Unit (ERU) bekerja sama dengan Komunitas untuk Hutan Sumatera melakukan patroli intensif di dalam kawasan hutan. Tugas mereka bukan hanya sekadar mengawasi, tetapi juga bertindak sebagai garda terdepan dalam mencegah aktivitas ilegal. Tim patroli ini secara aktif membersihkan jerat yang dipasang oleh pemburu dan mengedukasi masyarakat lokal mengenai pentingnya mematuhi hukum anti-perburuan liar. Selain itu, mereka berperan penting dalam menggiring gajah liar yang mendekati pemukiman atau lahan pertanian warga agar kembali ke dalam kawasan hutan demi menjaga keselamatan kedua belah pihak.

Di sisi lain, kekayaan Way Kambas tidak hanya terletak pada satwa darat besarnya, tetapi juga pada keanekaragaman jenis burungnya yang luar biasa. Salah satu penghuni yang menonjol adalah Pecuk-ular Asia atau Oriental Darter (Anhinga melanogaster). Burung ini memiliki kemampuan menyelam yang unik untuk mengejar ikan di bawah air dalam durasi yang cukup lama. Menariknya, burung ini mampu mengurangi daya apung tubuhnya saat berenang, sehingga sering kali hanya bagian kepalanya saja yang terlihat muncul di permukaan air, menyerupai ular yang sedang meluncur.

Kehadiran Pecuk-ular Asia di Way Kambas juga menjadi pengingat pentingnya status perlindungan hukum bagi satwa di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 Tahun 2018, Pecuk-ular Asia merupakan satu-satunya spesies burung dari keluarga Phalacrocoracidae yang statusnya dilindungi. Upaya gabungan antara patroli hutan yang ketat untuk gajah serta perlindungan habitat perairan bagi burung-burung langka inilah yang memastikan bahwa Taman Nasional Way Kambas tetap menjadi rumah yang aman bagi keanekaragaman hayati Indonesia di masa depan.