News & Blog
Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.
Mengenal Badak Jawa: Sang Legenda Bercula Satu yang Kian Terhimpit
Indonesia merupakan negara yang patut bersyukur karena menjadi habitat bagi dua dari lima spesies badak yang masih ada di dunia, yaitu Badak Sumatera dan Badak Jawa. Di antara keduanya, Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) memegang predikat sebagai spesies yang paling langka. Dahulu, wilayah persebarannya sangat luas mencakup Asia Tenggara, India, hingga Tiongkok, namun kini mereka hanya dapat ditemukan di satu titik terakhir di dunia, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Provinsi Banten.
Status konservasi Badak Jawa saat ini berada pada tingkat yang sangat kritis atau Critically Endangered (CR) menurut Red List IUCN. Populasinya yang sangat sedikit, yakni hanya berkisar 74 ekor, membuat mereka menjadi salah satu mamalia terlangka di bumi. Kelangsungan hidup spesies ini terus dibayangi oleh berbagai ancaman serius, mulai dari potensi bencana alam hingga risiko wabah penyakit yang bisa menyerang kapan saja.
Secara fisik, Badak Jawa memiliki karakteristik yang unik dibandingkan kerabatnya. Badak ini dikenal juga dengan sebutan Badak Sunda atau badak bercula satu. Pada individu dewasa, beratnya bisa mencapai 1,6 hingga 2,3 ton dengan panjang tubuh antara 2-4 meter. Menariknya, hanya badak jantan yang memiliki cula dengan panjang sekitar 20-27 cm, sementara badak betina umumnya tidak memiliki cula sama sekali.
Untuk bertahan hidup di dalam hutan, Badak Jawa mengonsumsi berbagai jenis tumbuhan seperti tunas, ranting, daun muda, dan buah-buahan yang jatuh. Selain makan, mereka juga melakukan aktivitas penting lainnya seperti berkubang dan “menggaram” untuk mencukupi kebutuhan mineral tubuh. Karena sifatnya yang sangat pemalu, keberadaan mereka di alam liar lebih sering diidentifikasi melalui tanda-tanda tidak langsung, seperti adanya kubangan, gesekan cula pada pohon, bekas kaisan, jejak pakan, pelintiran ranting, hingga bekas urin dan feses yang ditinggalkan di lantai hutan.
Latest News
-
31 Mar 2026Mengenal Gajah Sumatera: Sang Raksasa Cerdas Penjaga Keseimbangan Ekosistem Hutan -
28 Mar 2026Solusi Permanen Konflik Satwa: Soft Launching Pembangunan Pembatas di Taman Nasional Way Kambas -
28 Mar 2026Langkah Konkret Penyelamatan Gajah: Pembangunan Pembatas 138 KM di Way Kambas Dimulai -
27 Mar 2026Halalbihalal Pasca-Idulfitri di Way Kambas: Refleksi dan Solusi Konkret Akhiri Konflik Satwa-Manusia -
27 Mar 2026Harapan Baru dari Forum Rembuk: Pembangunan Pembatas 138 KM untuk Akhiri 43 Tahun Konflik Gajah-Manusia