News & Blog

Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.

Menanamkan Jiwa Konservasi Sejak Dini di Desa Penyangga Way Kambas

Desa Braja Harjosari, salah satu desa penyangga yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Kuala Penet, kembali menghidupkan tradisi edukasi yang sempat terhenti. Terletak di bagian selatan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), desa ini memiliki Dusun VIII (Spontan H) yang berbatasan langsung dengan wilayah taman nasional dengan batas sungai. Sebagai desa binaan pertama TNWK (Sukosari), Braja Harjosari memegang peranan vital dalam menjaga keharmonisan antara masyarakat dan alam.

Setelah dua tahun absen akibat pandemi COVID-19, peringatan hari jadi dusun yang jatuh setiap tanggal 12 September kembali dimeriahkan dengan lomba-lomba edukatif. Salah satu agenda utama yang diselenggarakan oleh Penyuluh Kehutanan BTNWK adalah lomba melukis dan mewarnai bagi anak-anak. Kegiatan ini terakhir kali dilaksanakan pada tahun 2019, yang kala itu berbarengan dengan peringatan Hari Badak Dunia.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi dengan total 80 anak yang berpartisipasi dalam ajang ini. Rinciannya, kategori mewarnai diikuti oleh 50 anak, sementara kategori melukis diikuti oleh 30 anak. Para peserta memperebutkan gelar juara I, II, dan III untuk masing-masing kategori melalui karya kreatif yang bertemakan lingkungan dan satwa liar, seperti badak yang menjadi ikon kebanggaan kawasan ini.

Penyelenggaraan kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan bentuk pendidikan konservasi konkret bagi anak-anak usia TK, PAUD, hingga SD. Dengan tinggal di pinggiran kawasan, pemahaman mengenai pentingnya menjaga hutan diharapkan dapat melekat kuat di hati mereka hingga dewasa nanti. Melalui coretan warna di atas kertas, diharapkan lahir agen-agen konservasi masa depan yang akan menjaga kelestarian Taman Nasional Way Kambas agar tetap lestari selamanya.