News & Blog
Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.
Menjaga Jantung Rimba: Dedikasi Konservasi dan Pesona Avifauna di Taman Nasional Way Kambas
Upaya menjaga kelestarian ekosistem di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) merupakan kerja keras yang berkesinambungan. Salah satu pilar utamanya adalah kegiatan patroli rutin yang dilakukan oleh petugas RPTN Sekapuk bersama Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP). Patroli ini bukan sekadar berjalan menyusuri hutan, melainkan langkah krusial untuk mencegah serta mendeteksi dini berbagai gangguan dan ancaman terhadap kawasan, seperti aktivitas perburuan liar, risiko kebakaran hutan, hingga perambahan ilegal. Melalui pengawasan ketat di lapangan, integritas kawasan konservasi ini tetap terjaga dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.



Selain pengawasan fisik melalui patroli, TNWK juga memanfaatkan teknologi untuk memantau kehidupan satwa yang sulit diamati secara langsung. Penggunaan camera trap atau kamera jebak menjadi solusi efektif untuk merekam aktivitas satwa liar di alam tanpa mengganggu mereka. Kamera ini bekerja secara otomatis menggunakan sensor gerak, sensor inframerah, atau sinar sebagai pemicu untuk mengambil foto maupun video. Pemasangan perangkat ini di titik-titik strategis memungkinkan para peneliti dan pengelola taman nasional mendapatkan data akurat mengenai populasi dan perilaku satwa penghuni rimba Way Kambas.
Kekayaan hayati yang dilindungi di TNWK sangatlah luar biasa, terutama dari sektor avifauna atau burung. Salah satu spesies yang mencolok adalah Kadalan Beruang (Phaenicophaeus diardi), burung berukuran besar (34 cm) dengan bulu dominan abu-abu dan sayap hijau mengkilap kebiruan. Burung yang memiliki kulit merah tua di sekitar mata dan paruh hijau ini terbagi menjadi dua sub-spesies, yaitu P. diardi yang tersebar dari Myanmar hingga Sumatera, serta P. borneensis yang mendiami wilayah Kalimantan. Keunikan fisiknya menjadikan burung ini salah satu permata yang sangat berharga di habitat dataran rendah.
Tak kalah pentingnya, terdapat pula Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus) yang menjadi fokus konservasi karena statusnya yang terancam. Saat ini, Kangkareng Hitam telah masuk dalam Daftar Merah IUCN dengan status Rentan (Vulnerable) dan terdaftar dalam Appendix II CITES. Di Indonesia, burung penghuni hutan primer ini merupakan satwa dilindungi berdasarkan PermenLHK No. 20 Tahun 2018. Kehadiran mereka di Way Kambas adalah indikator kesehatan hutan yang harus terus kita jaga bersama agar tetap terbang bebas di langit Sumatera.
Latest News
-
31 Mar 2026Mengenal Gajah Sumatera: Sang Raksasa Cerdas Penjaga Keseimbangan Ekosistem Hutan -
28 Mar 2026Solusi Permanen Konflik Satwa: Soft Launching Pembangunan Pembatas di Taman Nasional Way Kambas -
28 Mar 2026Langkah Konkret Penyelamatan Gajah: Pembangunan Pembatas 138 KM di Way Kambas Dimulai -
27 Mar 2026Halalbihalal Pasca-Idulfitri di Way Kambas: Refleksi dan Solusi Konkret Akhiri Konflik Satwa-Manusia -
27 Mar 2026Harapan Baru dari Forum Rembuk: Pembangunan Pembatas 138 KM untuk Akhiri 43 Tahun Konflik Gajah-Manusia