News & Blog

Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.

Kilas Balik 24 Tahun Andalas: Sang Pionir Konservasi Badak Sumatera Pulang Kampung

Pada 13 September 2025 lalu, sebuah perayaan penuh makna digelar di Suaka Rhino Sumatera (SRS) Taman Nasional Way Kambas untuk memperingati ulang tahun ke-24 Andalas. Lahir di Cincinnati Zoo, Amerika Serikat pada tahun 2001 dari pasangan legendaris Emi dan Ipuh, Andalas mencatatkan sejarah sebagai badak Sumatera pertama yang lahir di luar habitat alami dalam kurun waktu lebih dari 112 tahun. Kehadirannya bukan sekadar kelahiran satwa langka, melainkan sebuah simbol keberhasilan kolaborasi konservasi global yang sangat berharga bagi Indonesia.

Perjalanan Andalas untuk kembali ke tanah air dimulai pada tahun 2007, saat ia dipindahkan ke SRS TNWK yang merupakan fasilitas penangkaran semi in-situ. Momen “pulang kampung” ini terekam dengan haru melalui foto-foto lawas yang memperlihatkan sambutan dari para perintis SRS, seperti Bapak Sumadi dan Pak Sarno, yang telah mendampinginya sejak hari pertama ia menginjakkan kaki kembali di Indonesia. Kini, setelah hampir dua dekade menetap di Way Kambas, Andalas telah tumbuh menjadi pejantan tangguh dengan berat mencapai 810 KG.

Keberhasilan Andalas di SRS tidak hanya diukur dari usianya yang panjang, tetapi juga dari kontribusinya bagi keberlangsungan spesiesnya. Saat ini, Andalas adalah ayah dari tiga ekor badak yang lahir di SRS, yaitu Andatu, Delilah, dan si kecil Anggi. Lebih luar biasa lagi, ia kini telah menyandang status sebagai “kakek” dengan kelahiran cucunya, Sedah Mirah dan Indra. Rangkaian prestasi ini membuktikan bahwa program pembiakan di SRS berjalan sukses dalam upaya menyelamatkan badak Sumatera dari ambang kepunahan.

Dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-24, para keeper setianya, Redy dan Fugut, menyiapkan tumpeng buah spesial sebagai bentuk kasih sayang. Transformasi Andalas dari bayi badak mungil yang lahir di Cincinnati hingga menjadi sosok ayah dan kakek yang perkasa di Way Kambas adalah sebuah narasi penuh harapan. Mari kita terus dukung upaya dedikasi para rimbawan dan tenaga medis di SRS agar Andalas dan seluruh keluarganya tetap sehat untuk menjadi penjaga kelestarian hutan Indonesia.