News & Blog

Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.

Benarkah Kulit Badak Sumatera Setebal Mitosnya? Mengenal Karakteristik Unik Satwa Langka Ini

Kita sering mendengar istilah “kulit badak” digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak sensitif atau tahan banting. Namun, jika kita melihat lebih dekat pada sosok asli Badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), realitanya jauh lebih kompleks dari sekadar mitos tersebut. Meskipun kulit mereka memang dikenal tebal dengan permukaan yang kasar, ternyata ada sisi “kerapuhan” yang jarang diketahui masyarakat umum.

Pada spesies Badak sumatera, tekstur kulitnya memang terlihat sangat kuat dan kokoh untuk melindungi tubuhnya di dalam hutan tropis yang lebat. Namun, fakta menariknya adalah kulit yang tampak tebal dan kasar tersebut sebenarnya tetap bisa dengan mudah terluka oleh ranting pohon atau benda tajam lainnya yang ada di habitat mereka. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan alami tersebut tidak membuat mereka sepenuhnya kebal terhadap luka fisik.

Secara visual, Badak sumatera memiliki ciri khas warna kulit cokelat kemerahan yang membedakannya dari spesies badak lainnya. Keunikan lainnya terletak pada rambut pendek dan kaku yang menutupi hampir seluruh permukaan tubuh mereka. Keberadaan rambut ini merupakan salah satu alasan mengapa Badak sumatera sering disebut sebagai badak paling primitif, karena kemiripannya dengan nenek moyang mereka yang hidup di zaman es.

Untuk menjaga kondisi kulitnya agar tetap sehat dan terhindar dari parasit, Badak sumatera memiliki ritual harian yang sangat penting, yaitu berkubang. Berkubang bukan sekadar aktivitas bermain lumpur, melainkan kebutuhan biologis yang vital. Dalam satu hari, satwa ini bisa menghabiskan waktu hingga 1/3 dari total waktunya hanya untuk berkubang di dalam lumpur guna mendinginkan suhu tubuh dan menjaga kelembapan kulitnya yang ternyata cukup sensitif terhadap perubahan lingkungan.