News & Blog
Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.
Mengenal Celepuk Reban: Si Mungil Penjaga Malam dari Suku Strigidae
Dunia burung hantu selalu menyimpan daya tarik tersendiri, terutama bagi mereka yang gemar mengamati kehidupan liar di malam hari. Salah satu spesies yang menarik untuk dibahas adalah Celepuk Reban atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Sunda Scops-owl. Burung ini merupakan jenis burung hantu berukuran kecil yang berasal dari suku Strigidae. Meskipun ukurannya tidak besar, kehadirannya di ekosistem sangatlah penting sebagai salah satu predator malam yang efisien.
Secara fisik, Celepuk Reban memiliki karakteristik yang unik dengan panjang tubuh yang hanya mencapai sekitar 20 hingga 21 cm saja. Bobot tubuhnya pun tergolong ringan, yakni hanya seberat kurang lebih 100 gram dengan panjang bentang sayap yang juga berkisar di angka 20 cm. Karena ukurannya yang mungil ini, ia sering kali pandai berkamuflase di sela-sela dahan pohon, menjadikannya cukup sulit ditemukan jika kita tidak jeli memerhatikan sekeliling.
Burung ini memiliki banyak nama panggilan lokal di berbagai daerah di Indonesia, seperti Celepuk, Bueuk, hingga Manuk Kuwek. Namun, secara ilmiah, spesies ini diidentifikasi dengan nama Otus lempiji. Nama-nama lokal ini biasanya merujuk pada suara atau kebiasaan burung tersebut yang sudah akrab di telinga masyarakat pedesaan maupun mereka yang tinggal di dekat kawasan hutan.
Salah satu cara paling mudah untuk mengenali keberadaan Otus lempiji adalah melalui suaranya yang khas di keheningan malam. Burung jantan biasanya mengeluarkan suara berbunyi “wuup” yang terdengar lembut namun sedikit meninggi di bagian akhir. Berbeda dengan jantan, burung betina memiliki nada yang lebih tinggi dengan bunyi seperti “whiio” atau “pwok” yang memiliki karakter nada bergetar dan menurun. Suara-suara inilah yang sering kali menjadi pemecah kesunyian di dalam hutan maupun perkebunan saat matahari telah terbenam.
Latest News
-
31 Mar 2026Mengenal Gajah Sumatera: Sang Raksasa Cerdas Penjaga Keseimbangan Ekosistem Hutan -
28 Mar 2026Solusi Permanen Konflik Satwa: Soft Launching Pembangunan Pembatas di Taman Nasional Way Kambas -
28 Mar 2026Langkah Konkret Penyelamatan Gajah: Pembangunan Pembatas 138 KM di Way Kambas Dimulai -
27 Mar 2026Halalbihalal Pasca-Idulfitri di Way Kambas: Refleksi dan Solusi Konkret Akhiri Konflik Satwa-Manusia -
27 Mar 2026Harapan Baru dari Forum Rembuk: Pembangunan Pembatas 138 KM untuk Akhiri 43 Tahun Konflik Gajah-Manusia