News & Blog

Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.

Penguatan Peran Serta Masyarakat dalam Konservasi Sumberdaya Alam di Sumatran Rhino Sanctuary dan Pusat Latihan Gajah, TN Way Kambas

Halo Sobat Hijau!

Upaya pelestarian alam dan perlindungan satwa endemik Indonesia memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat setempat. Dalam semangat tersebut, Kepala Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Hutan (P2SEMH) baru-baru ini melakukan kunjungan kerja strategis ke dua lokasi vital di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung, yaitu Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) dan Pusat Latihan Gajah (PLG). Kunjungan ini bertujuan untuk mendalami mekanisme pengelolaan kawasan serta mengeksplorasi lebih jauh bagaimana peran serta masyarakat dapat ditingkatkan dalam mendukung keberlangsungan hidup satwa-satwa kebanggaan Indonesia tersebut.

Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) saat ini menjadi fokus utama dalam program pengembangbiakan intensif dan penelitian Badak Sumatera. Dikelola oleh Yayasan Badak Indonesia (@badak.indonesia) yang bekerja sama dengan pihak TNWK, fasilitas ini menempati area seluas 250 hektar yang terbagi dalam dua ring. Kabar menggembirakan datang dari keberhasilan program pembiakan ini, di mana terdapat 10 ekor badak yang menghuni SRS, termasuk lima individu yang lahir langsung di sana, yaitu Andatu (2012), Delilah (2016), Sedah Mirah (2022), Anggi (2023), dan Indra (2023). Mengingat sifat badak yang sangat sensitif, pelibatan masyarakat di sekitar SRS difokuskan pada penyediaan pakan tambahan untuk melengkapi pakan alami di habitat mereka.

Di sisi lain, Pusat Latihan Gajah (PLG) di TNWK memiliki misi penting untuk meminimalisir konflik antara gajah dan manusia melalui konservasi secara in-situ. Saat ini, PLG menjadi rumah bagi 34 ekor gajah, termasuk satu bayi gajah yang baru saja lahir pada 15 Agustus 2025 yang lalu. Berbeda dengan SRS, pengelolaan PLG memberikan ruang yang lebih luas bagi partisipasi ekonomi masyarakat. Selain menjadi penyedia pakan, masyarakat juga diberdayakan melalui penyediaan paket-paket wisata, serta penyediaan konsumsi bagi para wisatawan. Hal ini dikarenakan PLG memang dibuka untuk umum sebagai destinasi edukasi bagi masyarakat yang ingin melihat gajah secara lebih dekat.

Melalui kunjungan kerja ini, P2SEMH berharap model pengelolaan yang memadukan konservasi ketat dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat terus dikembangkan. Dengan melibatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam penyediaan pakan maupun jasa wisata, rasa memiliki terhadap kawasan hutan dan satwa liar akan semakin kuat. Hal ini merupakan langkah nyata dalam memastikan bahwa kelestarian alam di Taman Nasional Way Kambas dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.

— #SobatHijau