News & Blog

Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.

Inovasi Pelestarian: Survei Badak Sumatera Menggunakan Metode e-DNA dan Anjing Pelacak di Way Kambas

Upaya penyelamatan badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) terus memasuki babak baru dengan pemanfaatan teknologi dan kolaborasi lintas lembaga. Selama bulan Juli 2025, Balai Taman Nasional Way Kambas (BTNWK) bersama Yayasan Badak Indonesia (YABI) telah sukses melaksanakan survei intensif di kawasan Taman Nasional Way Kambas. Langkah ini menjadi sangat krusial mengingat badak sumatera merupakan salah satu mamalia paling terancam punah di dunia, sehingga data keberadaan mereka di alam liar sangat dibutuhkan untuk menentukan langkah konservasi selanjutnya.

Dalam survei kali ini, tim ahli menggunakan kombinasi dua metode mutakhir, yaitu pengumpulan sampel e-DNA (environmental DNA) dan penggunaan detection dog atau anjing pelacak. Metode e-DNA memungkinkan peneliti untuk mendeteksi keberadaan satwa melalui materi genetik yang tertinggal di lingkungan, sementara anjing pelacak yang terlatih khusus bertugas mengendus jejak fisik badak di medan hutan yang rapat. Kehadiran anjing pelacak ini merupakan hasil dukungan dari International Rhino Foundation (IRF) dan Working Dogs for Conservation (WD4C). Tim anjing pelacak ini telah tiba di Indonesia sejak akhir Juni 2025 dan menjalani pelatihan khusus di Suaka Rhino Sumatera (SRS) sebelum terjun langsung ke lapangan.

Pelaksanaan survei di lapangan dilakukan dengan pembagian peran yang sangat rapi. Terdapat dua tim survei e-DNA dan dua tim trajectory yang mendampingi tim anjing pelacak. Tim trajectory bersama anjing pelacak berada di lini terdepan untuk menyisir jejak satwa secara langsung. Jika ditemukan temuan potensial, tim e-DNA akan segera menindaklanjuti untuk mengambil sampel. Beberapa jenis sampel yang dikumpulkan meliputi air kubangan, sedimen kubangan, feses, hingga bekas makan (liur) yang diambil melalui metode swab dan jaring laba-laba.

Penerapan metode gabungan ini diharapkan dapat memberikan hasil yang jauh lebih akurat dalam memetakan titik-titik keberadaan badak di Way Kambas. Selain tingkat akurasi yang tinggi, metode ini dipilih karena bersifat non-invasif, yang berarti minim gangguan terhadap aktivitas alami sang badak di habitatnya. Keberhasilan survei ini tidak lepas dari dukungan Tropical Forest Conservation Action for Sumatera (TFCA-S) serta kerja keras tim gabungan dari Rhino Protection Unit (RPU) dan staf teknis lainnya yang berkomitmen penuh menjaga kelestarian warisan alam Indonesia.