News & Blog

Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.

Jejak 23 Tahun Andalas: Sang Pionir Konservasi Badak Sumatera

Hari ini kita merayakan tonggak sejarah yang luar biasa dalam dunia konservasi global. Andalas, badak sumatera jantan yang ikonik, merayakan hari ulang tahunnya yang ke-23. Keberadaan Andalas bukan sekadar angka; ia adalah simbol keberhasilan diplomasi dan ilmu pengetahuan dalam upaya menyelamatkan spesies yang berada di ambang kepunahan. Sebagai badak sumatera pertama yang lahir di penangkaran setelah lebih dari 112 tahun, kisah hidupnya telah menginspirasi banyak pejuang lingkungan di seluruh dunia.

Andalas lahir di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat, pada 13 September 2001 dari pasangan Emi dan Ipuh. Kelahirannya merupakan hasil dari program pembiakan internasional yang sangat dinantikan. Namun, takdir Andalas memang untuk kembali ke tanah leluhurnya. Pada Februari 2007, ia menempuh perjalanan jauh dari Los Angeles Zoo untuk “pulang” ke Indonesia, tepatnya ke Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Taman Nasional Way Kambas, guna mendukung program pembiakan nasional secara langsung.

Di SRS TNWK, Andalas telah membuktikan perannya sebagai pejantan tangguh. Ia adalah ayah dari tiga anak badak yang lahir dari pasangannya, Ratu, yaitu Andatu, Delilah, dan si bungsu Anggi. Bahkan, warisan genetiknya kini telah berlanjut ke generasi berikutnya, di mana Andalas telah resmi menjadi kakek bagi badak Sedah Mirah dan Indra yang lahir pada tahun 2022 dan 2023. Keberhasilan ini memperkuat harapan bahwa populasi badak sumatera bisa kembali bangkit melalui pengelolaan yang tepat dan kasih sayang para keeper.

Hingga hari ini, tim dokter hewan dan perawat di SRS TNWK melaporkan bahwa Andalas dalam kondisi yang sehat dan sangat aktif. Perayaan ulang tahunnya yang ke-23 ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa setiap individu badak yang bertahan hidup adalah kemenangan bagi alam Indonesia. Mari kita kirimkan doa dan ucapan terbaik untuk Andalas, agar ia terus sehat dan menjadi penjaga harapan bagi kelestarian “Hairy Rhinoceros” di masa depan.