News & Blog

Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.

Tragedi Jerat Kembali Terulang: Penyelamatan Anak Gajah Liar di Kawasan TNWK

Kabar kurang menyenangkan kembali datang dari kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Masih segar di ingatan kita tentang Erin, anak gajah yang kehilangan belalainya akibat jerat, kini kejadian serupa menimpa seekor anak gajah liar lainnya. Seekor anak gajah betina yang diperkirakan berumur kurang dari satu tahun ditemukan dalam kondisi memprihatinkan setelah menjadi korban jerat seling yang dipasang oleh pemburu liar di dalam kawasan hutan.

Penemuan ini berawal dari laporan masyarakat di wilayah Resort Susukan Baru yang melihat anak gajah tersebut berjalan pincang di pinggir hutan pada tanggal 24 Februari 2024. Mirisnya, jerat kawat seling tersebut melingkar kuat di kaki kiri depan sang anak gajah, bahkan kawatnya dilaporkan sudah masuk merobek daging kakinya. Laporan tersebut segera direspon cepat oleh Plt. Kepala Balai TNWK, Hermawan, dengan menerjunkan tim gabungan yang terdiri dari Polisi Kehutanan (Polhut), tim medis dari Rumah Sakit Gajah, dokter hewan YABI, serta Masyarakat Mitra Polhut (MMP) untuk melakukan evakuasi darurat.

Jerat merupakan ancaman nyata bagi keberlangsungan satwa liar di TNWK. Jebakan mematikan dari kawat seling ini biasanya dipasang oleh pemburu di lintasan satwa dengan tujuan menangkap rusa, babi hutan, atau kijang untuk dikonsumsi dagingnya. Namun, tidak jarang jerat ini juga melukai satwa besar yang dilindungi seperti harimau, badak, dan gajah. Meskipun ratusan jerat rutin diamankan setiap kali patroli dilakukan, aksi perburuan liar tampaknya masih terus berlanjut, terutama pasca terjadinya kebakaran hutan.

Melalui kejadian ini, Balai TNWK mengajak seluruh masyarakat atau “Sobat Way Kambas” untuk lebih peduli terhadap kelestarian satwa liar. Salah satu langkah nyata yang bisa dilakukan adalah dengan berhenti membeli dan mengonsumsi daging satwa liar seperti rusa atau babi hutan, meskipun harganya mungkin lebih murah dibandingkan daging sapi. Mari kita bersama-sama menyuarakan kampanye STOP Perburuan Liar dan STOP Konsumsi Daging Satwa Liar demi menjaga agar ekosistem kita tetap seimbang dan lestari.