News & Blog

Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.

Tetenger 33 Tahun Taman Nasional Way Kambas: Harmoni Seni Rakyat dari Desa Penyangga

Balai Taman Nasional Way Kambas (BTNWK) baru saja menggelar sebuah perhelatan istimewa bertajuk “Tetenger 33 Tahun Taman Nasional Way Kambas”. Acara ini merupakan bentuk kristalisasi rasa syukur dan kecintaan terhadap ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa melalui penampilan seni budaya yang dibawakan oleh masyarakat desa penyangga. Pentas ini diselenggarakan dalam rangka memperingati tiga momentum besar sekaligus, yaitu hari jadi ke-33 deklarasi pembentukan TNWK pada 1 April, Hari Bumi sedunia pada 22 April 2022, serta sebagai bagian dari rangkaian menuju “Road to Festival Wisata Hutan Lampung”.

Kemeriahan acara diisi dengan berbagai pertunjukan seni tradisional dan modern yang memukau. Masyarakat dari desa-desa penyangga, seperti Labuhan Ratu VI, Labuhan Ratu VII, dan Braja Harjosari, turut ambil bagian menunjukkan bakat mereka. Penonton disuguhi berbagai penampilan mulai dari Tari Sigeh Pengunten yang anggun, Tari Cendrawasih yang dinamis, hingga ketangkasan bela diri dalam Pencak Silat. Tidak hanya itu, alunan musik angklung dan lagu akustik bertema kelestarian Way Kambas juga turut menggema, mempertegas pesan harmoni antara manusia dan alam.

Salah satu daya tarik utama dalam pentas seni ini adalah pertunjukan teater bayangan berjudul “Dugul dan Thole” yang dibawakan oleh anak-anak desa penyangga. Melalui kreativitas seni ini, BTNWK ingin menyampaikan pesan mendalam mengenai fungsi ekologi hutan Way Kambas. Selain sebagai perayaan, momentum ini juga digunakan untuk memperkenalkan LOGO baru Taman Nasional Way Kambas yang merepresentasikan semangat baru dalam mengelola kawasan hutan agar tetap lestari secara ekologis namun tetap mampu menyejahterakan masyarakat di sekitarnya.

Penyelenggaraan acara ini membuktikan bahwa pelestarian hutan tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan aktif masyarakat lokal. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk penulis cerita dan dokumentasi dari tim humas BTNWK serta para seniman lokal, “Tetenger 33 Tahun” sukses menjadi jembatan edukasi dan apresiasi budaya. Semoga melalui kegiatan seperti ini, kesadaran untuk menjaga Taman Nasional Way Kambas semakin kuat, demi masa depan yang berkelanjutan bagi satwa dilindungi seperti gajah, badak, dan harimau yang mendiami kawasan tersebut.