News & Blog

Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.

Mengenal Transformasi Digital dan Kisah Pendamping Desa dalam Bedah Buku HKAN 2021

Peringatan puncak Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2021 dimeriahkan dengan agenda literasi yang sangat inspiratif melalui kegiatan bedah buku. Acara yang dilaksanakan secara daring ini menghadirkan dua karya penting yang memotret dinamika konservasi di Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Diskusi ini menjadi ruang bagi para penggiat lingkungan untuk mendalami bagaimana teknologi dan kemanusiaan saling berkelindan dalam menjaga kelestarian alam nusantara.

Buku pertama yang dibahas adalah “Menuju Digital Society (Masa Depan Ras Manusia dan Transformasi Digital Konservasi Alam)”. Karya ini mengeksplorasi bagaimana adaptasi teknologi digital menjadi keharusan di era modern, termasuk dalam upaya memantau dan melindungi keanekaragaman hayati. Transformasi digital diharapkan mampu memperkuat basis data dan efektivitas kerja-kerja konservasi di lapangan, sehingga tantangan di masa depan dapat dihadapi dengan lebih presisi dan terukur.

Selanjutnya, buku kedua berjudul “Senandung Merdu Punggawa Taman (Kisah Para Pendamping Desa Sekitar Kawasan Konservasi)” memberikan sentuhan humanis pada acara ini. Buku ini menceritakan dedikasi luar biasa dari para pendamping desa yang menjadi garda terdepan dalam membangun harmoni antara masyarakat lokal dengan kawasan hutan. Melalui pendekatan sosial yang menyentuh, para “punggawa” ini membuktikan bahwa keberhasilan konservasi sangat bergantung pada kesejahteraan dan keterlibatan aktif masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan lindung.

Acara bedah buku ini menghadirkan narasumber yang sangat kompeten di bidangnya, yaitu Bapak Wiratno (Direktur Jenderal KSDAE) dan Bapak Jefry Susyafrianto (Direktur PKK, Ditjen KSDAE). Dengan dipandu oleh moderator Bapak Nandang Prihadi (Direktur PJLHK), diskusi berlangsung hangat dan memberikan wawasan baru bagi para peserta mengenai pentingnya dokumentasi tertulis dalam bentuk buku. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa literasi adalah instrumen penting untuk menyebarkan semangat cinta alam dan budaya nusantara kepada generasi mendatang.