News & Blog

Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.

Kisah Haru Erin dan Pentingnya Menjaga Habitat Satwa di Way Kambas

Taman Nasional Way Kambas kembali membagikan kisah menyentuh mengenai upaya konservasi satwa liar. Kali ini, perhatian tertuju pada sosok Erin, seekor anak gajah Sumatera yang menjadi simbol ketahanan hidup sekaligus pengingat akan kejamnya jerat pemburu. Erin ditemukan pada Juli 2016 di wilayah Bungur dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, di mana belalainya putus akibat terkena jerat. Kehilangan belalai adalah hantaman besar bagi seekor gajah, karena organ tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hidung, tetapi juga sebagai “tangan” utama untuk mengambil makanan dan berinteraksi.

Saat pertama kali dievakuasi, Erin diperkirakan berusia 3 tahun dengan kondisi tubuh yang sangat kurus karena kesulitan mencari makan secara mandiri. Namun, berkat dedikasi tim medis dan perawat di Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas, kondisi Erin kini telah membaik secara signifikan. Setelah hampir empat tahun menjalani perawatan intensif, Erin kini tampak lebih gemuk, sehat, dan yang paling membahagiakan, ia mulai mampu beradaptasi untuk makan sendiri meskipun dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya.

Kunjungan Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, ke Rumah Sakit Gajah Prof. DR. H. Rubini Admawidjaja menegaskan bahwa perlindungan satwa dari ancaman jerat adalah prioritas utama. Beliau secara langsung menyapa dan memberi makan Erin sebagai bentuk simpati terhadap satwa-satwa yang menjadi korban aktivitas ilegal manusia. Kasus Erin menjadi pelajaran berharga bahwa satu jerat yang dipasang di hutan dapat merusak masa depan satwa langka kita selamanya.

Selain tantangan fisik seperti yang dialami Erin, ketersediaan pakan alami di hutan juga menjadi faktor krusial bagi kelangsungan hidup satwa di Way Kambas. Sebagai perbandingan, satwa besar lainnya seperti Badak Sumatera memiliki kebutuhan nutrisi yang sangat tinggi, di mana mereka harus mengonsumsi dedaunan seberat 10% dari total berat tubuhnya setiap hari. Jika seekor badak memiliki berat 665 kilogram, maka ia butuh sekitar 66,5 kilogram pakan harian. Hal ini membuktikan bahwa menjaga keutuhan hutan bukan hanya tentang menyediakan tempat tinggal, tetapi juga menjamin “meja makan” yang melimpah bagi para penghuninya agar mereka tidak perlu mengalami penderitaan seperti yang dialami oleh Erin.