News & Blog
Melindungi rumah terakhir bagi satwa kebanggaan Indonesia di Lampung.
Serak Jawa: Sang Pahlawan Petani dari Way Kambas
Serak Jawa, atau yang lebih dikenal secara internasional sebagai Barn Owl, merupakan spesies burung hantu yang mungkin paling sering kita jumpai di sekitar kita. Dengan nama ilmiah Tyto alba, burung ini memiliki jangkauan habitat yang sangat luas, mulai dari wilayah pepohonan rimbun, tepi hutan, perkebunan, hingga pekarangan rumah dan taman-taman di tengah kota besar. Kehadirannya sering kali tidak disadari karena sifatnya yang aktif di malam hari.
Dilihat sekilas, Serak Jawa memiliki wajah berbentuk hati yang unik, membuatnya tampak menggemaskan seperti boneka. Namun, jangan tertipu oleh tampilannya yang lucu; burung ini adalah predator yang sangat tangguh. Saat melihat mangsa berukuran kecil, Serak Jawa akan menunjukkan sisi buasnya sebagai pemburu yang efisien. Inilah sebabnya mengapa masyarakat, terutama para petani, menjulukinya sebagai “Pahlawan Petani,” karena perannya yang sangat vital dalam membantu membasmi hama tikus di lahan pertanian secara alami.
Di kawasan Taman Nasional Way Kambas, populasi Serak Jawa tergolong sangat melimpah. Hal ini menjadi kabar baik bagi para peneliti burung malam, karena mereka dapat dengan mudah menemukan dan mengamati perilaku burung ini di lokasi-lokasi tertentu di dalam hutan Way Kambas. Kelestarian populasi burung hantu ini sangat penting untuk dijaga demi keseimbangan ekosistem, agar rantai makanan alami tetap berjalan dengan semestinya.
Latest News
-
31 Mar 2026Mengenal Gajah Sumatera: Sang Raksasa Cerdas Penjaga Keseimbangan Ekosistem Hutan -
28 Mar 2026Solusi Permanen Konflik Satwa: Soft Launching Pembangunan Pembatas di Taman Nasional Way Kambas -
28 Mar 2026Langkah Konkret Penyelamatan Gajah: Pembangunan Pembatas 138 KM di Way Kambas Dimulai -
27 Mar 2026Halalbihalal Pasca-Idulfitri di Way Kambas: Refleksi dan Solusi Konkret Akhiri Konflik Satwa-Manusia -
27 Mar 2026Harapan Baru dari Forum Rembuk: Pembangunan Pembatas 138 KM untuk Akhiri 43 Tahun Konflik Gajah-Manusia